Oleh : Khusyudul Hibri (Budi S.)
Ketika kita merasa kegelapan mengurung kita.
Hanya gelap sejauh mata memandang.
Bahkan remang pun enggan untuk menghampiri.
Jangankan jalan keluar, bahkan jalan untuk melangkahpun enggan untuk menampakkan diri.
Seakan semua cahaya telah lenyap.
Tidak, cahaya ini tidak pernah lenyap.
Cahaya yang menerangi seluruh jagat raya.
Cahaya yang telah mengusir seluruh kegelapan.
Cahaya di atas cahaya. Nuurun 'Alaa Nuur.
Hanya saja saat itu kita menutup mata.
Angin Kehidupan
Oleh : Khusyudul Hibri (Budi Setawan)
Sepeti kapas putih yang tertup angin
Terbang tanpa kendali
Pasrah kemenapun hembusan membawanya pergi
Tersangkut di sela-sela ranting yang menyibakkannya
Tertatih di tanah lapang yang tak mengacuhkannya
Terseok di tengah jalan yang mempermainkannya
Terjerembap dalam air yang menghanyutkannya
Atau tertelan kubangan lumpur yang menghinakannya
Masihkah menyerahkan semuanya pada angin?
Seperti Embun
Oleh : Khusyudul Hibri (Budi Setawan)
Seperti tetesan embun pagi
Yang menggantung di ujung mahkota bunga
Dengan keindahan yang tak tereja
Abadikah?
Mungkin menguap disirami cahaya mentari
Tertiup hembusan angin yang menari
Atau jatuh berdebam di daratan tak dikenali
Tidak ada komentar:
Posting Komentar