Jumat, 07 September 2018

Sajak Pendosa Perindu syurga

Kata Sumbang

Oleh : khusyudul hibri (Budi S.)

Pekat menyelimuti pandangan
Menyeret ke dalam gelapnya lubang
Tanpa pijakan tanpa pegangan
Tanpa tahu mendasarnya sebuah pusaran
Hanya kosong yang terlihat
Hanya diam yang terdengar
Hanya sesak yang terhirup
"Mengapa?" kata sumbang yang tak lupa keluar
Seperti ritual wajib simbol ketidak berdayaan
Setalah lama tutup mata dan telinga
Mengunci hati dari lembaran suci



Jawaban Langit

Oleh : Khusyudul Hibri (Budi S.)

Ketika kuyu kaki bersmpuh menengadah

Kalut wajah mendongak menatap entah
Parau suara mengirim tanya
Mengutuk langit jika jawaban tak datang segera

Apa yang kita harapkan?
Surat jawaban jatuh meniti pelang dari angkasa?
Terbang anggun disirami cahaya?
Tiba-tiba meletup di depan mata bersama hujan?
Atau bergemah bersama gemuruh awan?

Melangkah dan bukalah mata
Jawbannya sudah hadir dengan sederhana

Rabu, 05 September 2018

Sajak Rakyat

Hanya Drama

Oleh : Khusyudul Hibri (Budi S.)

Cerita usang yang teramat panjang
Bersorak harapan baru akan datang
Berlomba untuk membual
meneriakkan omong kosong yang mereka jual
Berharap dapat ditukar dengan kepercayaan
Hanya paradoks kehidupan
Jangankan datang
Bahkan keberadaannya pun masih diragukan
Semua menjadi kelabu
Yang putih tak jelas putihnya
Yang hitam tak jelas hitamnya
Hanya drama



Menunggu Arang

Oleh : Khusyudul Hibri (Budi S)
.
Yang kita lihat hanya bayang
Dari hal yang mungkin tak terterawang
Selimut gelap mengecoh pandang
.
Terjemahan gambaran mengambang
Hanya melahirkan langkah bimbang
Tumbuh liar menjadi sumbang
Berbuah merah menyala garang
Menjelma bara yang seolah terang
Namun hanya menunggu arang
.
Entahlah.... Antara berakhir gemilang
Atau memperkeruh catatan usang