Selasa, 12 Maret 2019

Sajak Pujangga Cinta (Selembar Senyuman)


Selembar Senyuman
Oleh: Khusyudul Hibri (Budi S.)

Gelap… tanpa berkas cahaya
Aku memilih menutup mata
Melebur semua warna menjadi hitam
Lelah tertipu rona bermuara kelam

Keras… membeku…
Kubiarkan rasa ini membatu
Mematahkan belati yang menyelusup
Membiarkan karat masa lalu membusuk

Tertutup rapat… terkunci…
Kuambil jeruji untuk mengurung diri
Mengusir tamu yang mengusik hati
Jerah melayani bunga yang berujung duri

Untuk apa bertabur warna jika hanya semu belaka
Untuk apa meneteskan rasa jika hanya menghanyutkan jiwa
Untuk apa membuka ruang jika hanya mengundang lara

Namun kemudian semuanya berubah
Rona warna itu bersemi menghias semesta
Rasa itu mengalir menyejukkan sukma
Ruang itu terbuka lebar mengusir hampa
Ketika lembar senyummu bersimpul indah

Jumat, 07 September 2018

Sajak Pendosa Perindu syurga

Kata Sumbang

Oleh : khusyudul hibri (Budi S.)

Pekat menyelimuti pandangan
Menyeret ke dalam gelapnya lubang
Tanpa pijakan tanpa pegangan
Tanpa tahu mendasarnya sebuah pusaran
Hanya kosong yang terlihat
Hanya diam yang terdengar
Hanya sesak yang terhirup
"Mengapa?" kata sumbang yang tak lupa keluar
Seperti ritual wajib simbol ketidak berdayaan
Setalah lama tutup mata dan telinga
Mengunci hati dari lembaran suci



Jawaban Langit

Oleh : Khusyudul Hibri (Budi S.)

Ketika kuyu kaki bersmpuh menengadah

Kalut wajah mendongak menatap entah
Parau suara mengirim tanya
Mengutuk langit jika jawaban tak datang segera

Apa yang kita harapkan?
Surat jawaban jatuh meniti pelang dari angkasa?
Terbang anggun disirami cahaya?
Tiba-tiba meletup di depan mata bersama hujan?
Atau bergemah bersama gemuruh awan?

Melangkah dan bukalah mata
Jawbannya sudah hadir dengan sederhana

Rabu, 05 September 2018

Sajak Rakyat

Hanya Drama

Oleh : Khusyudul Hibri (Budi S.)

Cerita usang yang teramat panjang
Bersorak harapan baru akan datang
Berlomba untuk membual
meneriakkan omong kosong yang mereka jual
Berharap dapat ditukar dengan kepercayaan
Hanya paradoks kehidupan
Jangankan datang
Bahkan keberadaannya pun masih diragukan
Semua menjadi kelabu
Yang putih tak jelas putihnya
Yang hitam tak jelas hitamnya
Hanya drama



Menunggu Arang

Oleh : Khusyudul Hibri (Budi S)
.
Yang kita lihat hanya bayang
Dari hal yang mungkin tak terterawang
Selimut gelap mengecoh pandang
.
Terjemahan gambaran mengambang
Hanya melahirkan langkah bimbang
Tumbuh liar menjadi sumbang
Berbuah merah menyala garang
Menjelma bara yang seolah terang
Namun hanya menunggu arang
.
Entahlah.... Antara berakhir gemilang
Atau memperkeruh catatan usang

Selasa, 14 Agustus 2018

Sajak Pujangga

Alur
Oleh : Khusyudul Hibri (Budi S.)

Perkara ini memang sulit dipahami.
Memiliki alur unik yang sulit dimengerti.
Terkadang ketidak sabaran membuat kita ingin merangkai alur sesuai imajinasi kita yang malah merusak jalan ceritanya.
Sebenarnya perkara ini sama halnya dengan perkara-perkara yang lain.
Hanya saja kita memberinya porsi lebih dan membiarkannya menguasai sebagian besar perasaan kita.
Hingga memahaminya menjadi sesuatu yang sangat penting.
Walaupun sebenarnya pengertiannya sangat sederhana.





Memahami Perasaan
Oleh : Khusudul Hibri (Budi S.)

Entahlah...
Ia bahkan bisa tumbuh liar, dan mengakar
Di tempat yang paling mustahil untuk berkecambah sekalipun
Siapa yang tahu....
Dan bisa jadi dengan sekejap ia menguap tak berbekas
Meninggalkannya dengan dedaunan yang meranggas
Atau bahkan meninggalkan luka yang menyebar luas
Menyusupkan duri secara buas
Padahal bukankah ia seharusnya menumbuhkan bunga



"Menyapa Senyap"

Khusyudul Hibri (Budi S.)


Mungkin selalu ada kata yang tak terucap Janji yang meskipun tak pernah menguapTak ada kesempatan untuk lenyapTetapi juga tak pernah bisa tertangkap
.Ya...Memang seharusnya jiwa selalu siapMelangkah pasti menapak mantapTetapi apa daya diri yang selalu terjerembapMenghadapi rasa yang tak pernah tertatapGejolak angan seketika gagapHingga semuanya tertunda tetapHanya bisa menyapa senyap

Puisi Kehidupan

Mencari cahaya

Oleh : Khusyudul Hibri (Budi S.)

Ketika kita merasa kegelapan mengurung kita.
Hanya gelap sejauh mata memandang. 
Bahkan remang pun enggan untuk menghampiri.
Jangankan jalan keluar, bahkan jalan untuk melangkahpun enggan untuk menampakkan diri. 
Seakan semua cahaya telah lenyap.
Tidak, cahaya ini tidak pernah lenyap. 
Cahaya yang menerangi seluruh jagat raya. 
Cahaya yang telah mengusir seluruh kegelapan. 
Cahaya di atas cahaya. Nuurun 'Alaa Nuur.
Hanya saja saat itu kita menutup mata.



Angin Kehidupan

Oleh : Khusyudul Hibri (Budi Setawan)

Sepeti kapas putih yang tertup angin
Terbang tanpa kendali
Pasrah kemenapun hembusan membawanya pergi

Tersangkut di sela-sela ranting yang menyibakkannya
Tertatih di tanah lapang yang tak mengacuhkannya
Terseok di tengah jalan yang mempermainkannya
Terjerembap dalam air yang menghanyutkannya
Atau tertelan kubangan lumpur yang menghinakannya

Masihkah menyerahkan semuanya pada angin?



Seperti Embun


Oleh : Khusyudul Hibri (Budi Setawan)

Seperti tetesan embun pagi
Yang menggantung di ujung mahkota bunga
Dengan keindahan yang tak tereja
Abadikah?

Mungkin menguap disirami cahaya mentari
Tertiup hembusan angin yang menari
Atau jatuh berdebam di daratan tak dikenali