Selasa, 14 Agustus 2018

Sajak Pujangga

Alur
Oleh : Khusyudul Hibri (Budi S.)

Perkara ini memang sulit dipahami.
Memiliki alur unik yang sulit dimengerti.
Terkadang ketidak sabaran membuat kita ingin merangkai alur sesuai imajinasi kita yang malah merusak jalan ceritanya.
Sebenarnya perkara ini sama halnya dengan perkara-perkara yang lain.
Hanya saja kita memberinya porsi lebih dan membiarkannya menguasai sebagian besar perasaan kita.
Hingga memahaminya menjadi sesuatu yang sangat penting.
Walaupun sebenarnya pengertiannya sangat sederhana.





Memahami Perasaan
Oleh : Khusudul Hibri (Budi S.)

Entahlah...
Ia bahkan bisa tumbuh liar, dan mengakar
Di tempat yang paling mustahil untuk berkecambah sekalipun
Siapa yang tahu....
Dan bisa jadi dengan sekejap ia menguap tak berbekas
Meninggalkannya dengan dedaunan yang meranggas
Atau bahkan meninggalkan luka yang menyebar luas
Menyusupkan duri secara buas
Padahal bukankah ia seharusnya menumbuhkan bunga



"Menyapa Senyap"

Khusyudul Hibri (Budi S.)


Mungkin selalu ada kata yang tak terucap Janji yang meskipun tak pernah menguapTak ada kesempatan untuk lenyapTetapi juga tak pernah bisa tertangkap
.Ya...Memang seharusnya jiwa selalu siapMelangkah pasti menapak mantapTetapi apa daya diri yang selalu terjerembapMenghadapi rasa yang tak pernah tertatapGejolak angan seketika gagapHingga semuanya tertunda tetapHanya bisa menyapa senyap

Puisi Kehidupan

Mencari cahaya

Oleh : Khusyudul Hibri (Budi S.)

Ketika kita merasa kegelapan mengurung kita.
Hanya gelap sejauh mata memandang. 
Bahkan remang pun enggan untuk menghampiri.
Jangankan jalan keluar, bahkan jalan untuk melangkahpun enggan untuk menampakkan diri. 
Seakan semua cahaya telah lenyap.
Tidak, cahaya ini tidak pernah lenyap. 
Cahaya yang menerangi seluruh jagat raya. 
Cahaya yang telah mengusir seluruh kegelapan. 
Cahaya di atas cahaya. Nuurun 'Alaa Nuur.
Hanya saja saat itu kita menutup mata.



Angin Kehidupan

Oleh : Khusyudul Hibri (Budi Setawan)

Sepeti kapas putih yang tertup angin
Terbang tanpa kendali
Pasrah kemenapun hembusan membawanya pergi

Tersangkut di sela-sela ranting yang menyibakkannya
Tertatih di tanah lapang yang tak mengacuhkannya
Terseok di tengah jalan yang mempermainkannya
Terjerembap dalam air yang menghanyutkannya
Atau tertelan kubangan lumpur yang menghinakannya

Masihkah menyerahkan semuanya pada angin?



Seperti Embun


Oleh : Khusyudul Hibri (Budi Setawan)

Seperti tetesan embun pagi
Yang menggantung di ujung mahkota bunga
Dengan keindahan yang tak tereja
Abadikah?

Mungkin menguap disirami cahaya mentari
Tertiup hembusan angin yang menari
Atau jatuh berdebam di daratan tak dikenali